Kamis, 20 November 2014

DIKSI

Pengertian Diksi
Pengertian diksi adalah diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita. Diksi  bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya.Dan diksi pun merupakan seni berbicara sehingga setiap kata dapat di dengar dan di pahami makanya kita harus memilih kata kata yang benar dan jangan pernah lewat dari kamus karena kamus itu memberikan petunjuk yang sangat tepat.
Makna Denotatif dan makna Konotatif
            Makna denotatif adalah makna yang sebenarnya yang sama dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat faktual. Makna pada kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan makna , nah di dalam makna denotatif ada tulisan makna lugas , makna lugas adalah makna yang sesungguhnya dan mirip dengan makna denotatif , dan sekarang saya akan memberikan sebuah contoh dari makna denotatif :
1.      Ibu membeli daging ke pasar.
2.      Putri sedang menyapu di depan halaman rumah.
3.      Tangan Doni terluka saat sedang memotong daging.
Makna konotatif adalah makna yang bukan sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan , dan contoh dari makna konotatif adalah:
1.      Ayah keluar rumah setiap pagi untuk banting tulang (arti banting tulang ialah bekerja keras).
2.      Karena Ani memiliki sifat murah hati sehingga Ani disukai banyak orang (arti murah hati ialah tidak sombong).
Makna denotatif berhubungan erat dengan makna konotatif dengan kebutuhan pemakaian bahasa dalam contoh nya :
1.      Ayah keluar rumah setiap pagi untuk banting tulang (makna Konotatif).
Ayah keluar rumah setiap pagi untuk bekerja keras (makna Denotatif).
2.      Karena Ani memiliki sifat murah hati sehingga Ani disukai banyak orang (makna Konotatif).
Karena ani memiliki sifat tidak sombong sehingga Ani disukai banyak orang (makna Denotatif).
Pengertian makna khusus dan makna umum :
Pengertian makna umum adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang luas dari kata yang lain , dan makna khusus adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang sempit dari kata yang lain ,contoh nya bunga (makna umum) karena bunga memiliki kata luas dan ada yang lebih spesifikasi yaitu bunga aglonema , bunga melati ,bunga mawar(makna khusus) . Mawar , melati ,aglonema pati merupakan jenis bunga .
Ada pun contoh lain yaitu bunga bank ,bunga bank bukan jenis dari Bunga akan tetapi ia hanyalah sebuah kiasan.
Pengertian kata abstrak dan kata konkrit
Jika kata abstrak itu bermakna sifat, keadaan dan kegiatan.
Contoh : Ketulusan, Kebodohan, Kepandaian, Kecintaan dan lain-lain.
Jika kata konkrit itu bermakna pada suatu benda, orang atau apa saja yang mempunyai eksistensi.
Contoh : Mobil, Motor, Rumah dan lain-lain
KESALAHAN PEMBENTUKAN DAN PEMILIHAN KATA
Pada bagian berikut akan diperhatikan kesalahan kasalahan penbentukan kata, baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis.
a.Penganggalan Awalan Me-
Contoh:
Israel luncurkan pesawat tank ke Palestina (salah)
Israel meluncurkan tank ke Palestina (benar)
b.Penagnggalan Awalan Ber-
Contoh:
Sampai temu lagi (salah)
Sampai bertemu lagi (benar)
c.Peluluhan Bunyi /c/.
Contoh:
Gatot sedang menyuri mobil (salah)
Gatot sedang mencuci mobil (benar)

d.Penyengauan Kata Dasar
Contoh:
Nyopet, mandang, nulis. Dalam bahasa Indonesia kita harus menggunakan kata-kata mencopet,memandang, menulis.
e.Bunyi /s/, /k/, p/, dan /t/ yang Tidak Luluh
Contoh:
Semua siswa harus mentaati peraturan yang berlaku (salah)
Semua siswa harus menaati peraturan yang berlaku (benar)
f.Awalan Ke- yang Kelirugunaan
Contoh:
Pengendara motor itu meninggal karena ketambrak oleh kereta api (salah)
Pengendara motor itu meninggal karena tertambrak oleh kereta api (benar).
g.Pemakaian Akhiran –ir
Contoh:
Saya sanggup mengkoordinir kegiatan 17 agustusan nanti (salah)
Saya sanggup mengkoordinasi kegiatan 17 agustusan nanti (benar)

h.Padanan yang Tidak Serasi

Contoh:
karena modal dibank dibank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. (salah)
karena modal dibank terbatas, tidak semua pengusah lemah memperoleh kredit (benar)
modal dibank terbatas sehingga, tidak semua pengusah lemah memperoleh kredit
i.Pemakaia Kata Depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada, dan terhadap
Contoh:
Putusan dari pada pemerintah itu melegakan hati rakyat. (salah)
Putusan pemerintah itu melegakan hati rakyat. (benar)

j.Pemakaian Akronim (singkatan)
Yang dimaksud kata singkatan adalah PLO, UI, dan lain-lain. Sedangkan yang dimaksud dengan bentuk singkat ialah lab (laboratorium), memo (memeorandum) dan lain-lain. Pemakaian akronim dan singkatan dalam bahasa Indonesia kadang-kadang tidak teratur.
Sekian penjelasan saya tentang diksi ,mungkin banyak yang kurang atau kesalahan saya mohon maaf ,terima kasih.

           

Sabtu, 04 Oktober 2014

BAHASA


Bahasa

Pengertian bahasa adalah sistem simbol bunyi bermakna dan ber artikulasi (dihasilkan oleh alat ucap)yang bersifat arbitrer dan konvensional ,yang dipakai sebagai alat komunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran 
Pengertian lain nya bahasa adalah ajang pertemuan berbagai penelitian seperti fenomenologi, linguistik, filsafat bahasa, teologi, psikoanalisis, antropologi budaya, sosiologi, historiografi, ilmu perbandingan agama, dan seterusnya. Lewat tulisan ini, bahasa diletakkan sebagai medium manusia dalam berhubungan dengan dunia luar dirinya seperti alam, makhluk infrahuman, sesama manusia, sekaligus mengonstitusikan hal ihwal di luar dirinya. Bahkan menegaskan bahwa bahasa merupakan media penegas keberadaan manusia itu sendiri.

Pengertian bahasa menurut ahli :

Menurut Syamsudin 1986 :

·        Bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan , keinginan , dan perbuatan-perbuatan ,alat untuk di pakai untuk mempengaruhi atau di pengaruhi

·        Bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk ,tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa ,tanda yang jelas dari kemanusian

Guna Bahasa

Langkah yang paling sukar dalam studi atau pengkajian bahasa adalah langkah awal nya, berulang kali para sarjana telah mendekati pengkajian bahasa tanpa benar-benar masuk ke dalam nya,ilmu pengetahuan linguistik muncul dari ke asyikan berfikir yang relatif praktis seperti penggunaan tulisan,pengkajian kesusastraan dan terutama dari tulisan-tulisan lama ,serta tuntutan wicara yang anggun tetapi orang dapat menghabiskan waktu berapa pun lama nya untuk hal-hal tersebut tanpa benar-benar masuk ke dalam pengkajian bahasa.Karena dalam pengkajian itu sejarah mungkin di tunda-tunda lagi, kita sebaiknya membicarakan hal ini untuk membedakan nta dengan pokok persoalan pengkajian kita
Asumsi Strukturalis
Belakangan ini linguistik kontemporer sangat kuat dipengaruhi pendekatan struktural. Pendekatan struktural sebagai metode yang otonom boleh dikatakan bermula dari terbitnya De Saussure, “Course de Linguistique Generale” di Paris tahun 1916. Salah satu gagasan De Saussure yang sudah menjadi klasik ialah distingsi langue (bahasa sebagai sistem tanda atau kode) dan parole (bahasa sebagai wacana).
Parole bersifat individual dan intensional sebab melalui ucapan seorang pembicara menyampaikan sesuatu tentang sesuatu kepada orang lain; parole selalu merupakan peristiwa yang kebetulan dan sewenang-wenang (arbitrary). Langue, sebaliknya, merupakan struktur kolektif dan anonim, yang relatif stabil dan merupakan aturan yang mengikat masyarakat bahasa. Akan tetapi sesudah membuat distingsi ini de Saussure langsung mengambil keputusan epistemologis dengan memberi prioritas kepada langue.
Pada mulanya pendekatan struktural dipakai untuk meneliti satuan bahasa yang lebih kecil dari kalimat, seperti fonem dan morfem. Akan tetapi dengan cepat sekali meluas dan diterapkan pada bidang lainnya. Pertama, model ini dipakai untuk meneliti wacana yang lebih luas dari kalimat. Propp misalnya menggunakannya untuk meneliti cerita-cerita rakyat Rusia. F. Braudel dalam penulisan sejarah dan Greimas dalam penelitian fiksi di Prancis. Kedua, struktural selanjutnya dipakai untuk meneliti kebudayaan dalam arti yang seluas-luasnya melampaui studi bahasa yang langsung.
Perluasan aplikasi model struktural dari fonemik dan morfologi ke bidang kebudayaan dalam arti luas ini hanya mungkin dibuat dengan asumsi dasar dari pihak strukturalisme yaitu bahwa wacana dan pelbagai aspek kebudayaan tersusun menurut satuan bahasa yang lebih kecil dari kalimat. Justru asumsi inilah yang harus dipertanyakan secara kritis untuk melihat batas keabsahannya. Dan karena strukturalisme bertolak dari studi linguistik, kritik terhadap strukturalisme juga harus dimulai dari bahasa.
Salah satunya dikemukakan linguis bernama Hjelmslev lewat “Prolegomena to a Theory of Language”. Linguis inilah yang pertama-tama mendefinisikan “struktur” sebagai suatu kesatuan otonom yang terdiri dari relasi-relasi intern. Teori Hjelmslev dapat disebutkan dalam empat postulat berikut ini;
1) Bahasa adalah objek penelitian sebuah ilmu empiris bernama linguistik.
2) Dalam bidang ilmu bahasa ini kita harus membedakan linguistik sinkronis (ilmu tentang bahasa sebagai sistem) dan linguistik diakronis (ilmu tentang bahasa dan perubahannya). Strukturalisme meletakkan linguistik diakronis di bawah linguistik sinkronis sebab sistem yang stabil lebih dipahami dari pada perubahan.
3) Di dalam struktur bahasa tidak ada tanda atau kode yang memiliki arti dari dirinya sendiri. Arti sebuah tanda semata-mata bergantung pada hubungan timbal balik antara tanda-tanda dalam struktur tersebut. Bahasa adalah sebuah sistem yang tertutup yang terdiri dari seperangkat unsur-unsur kecil yang terbatas, misalnya jumlah fonem, morfem, dan kaidah dalam setiap bahasa niscaya bersifat terbatas.
Karena bahasa merupakan sebuah sistem tertutup, arti sebuah tanda bahasa tidak bergantung dari maksud subjektif pembicara ataupun dari referensinya pada dunia objektif. Artinya bergantung semata-mata dari oposisi antara signifier dan signified. Dengan kata lain, makna sebuah tanda dalam pengertian strukturalis adalah nilai diferensialnya. Apabila kita mengikuti postulat strukturalis secara konsekuen, pada akhirnya bahasa kehilangan statusnya sebagai wacana dan dengan itu kehilangan referensinya pada subjek dan pada dunia konkret. Bertolak dari sini beberapa pemikir secara ekstrem sampai kepada teori tentang the death of subject, pengingkaran manusia sebagai subjek yang bertanggung jawab. Teori bahasa ternyata memiliki dampak yang serius.
Kembali ke wacana
Pendekatan struktural telah menyumbangkan hasil-hasil penelitian dalam linguistik dan ilmu sosial, tetapi sebuah teori bahasa yang mengabaikan wacana mau tak mau akan membawa kita kepada pemahaman yang tidak seimbang mengenai bahasa dan ia malahan dapat membawa dampak negatif bagi pemahaman kita tentang eksistensi manusia. Oleh karena itulah dari kalangan linguis sendiri muncul reaksi membela wacana, tanpa mengabaikan hasil yang telah dicapai oleh pendekatan struktural. Noam Chomsky, misalnya, tidak lagi berbicara tentang forma, tetapi transformasi, bukan tentang struktur, melainkan strukturasi. Teorinya dikenal dengan nama transformational generative grammar. Disebut generative karena ia terutama berurusan dengan kreativitas pemakai bahasa: bagaimana seorang pembicara menghasilkan kalimat-kalimat baru dalam jumlah yang praktis tak terbatas. Disebut transformational karena ia menunjukkan bagaimana terjadi transformasi antarkomponen semantis (yang disebutnya deep structure) dan komponen fonologis (surface structure).
Seorang linguis lain, Benveniste, secara tegas membedakan semiotik dan semantik, dengan pengertian bahwa yang satu tidak bisa disubordinasikan pada yang lain. Semiotik berurusan dengan bahasa sebagai sistem tanda (langue), sedangkan semantik menyelidiki wacana (discourse). Unsur terkenal wacana adalah kalimat, unsur terkecil langue ialah tanda. Bidang semiotik dan semantik, langue dan discourse, tanda dan kalimat, merupakan dua lapisan bahasa yang tidak bisa direduksikan satu terhadap yang lain.
Sebenarnya bahasa sebagai sistem tanda hanya bersifat potensial dan abstrak. Bahasa menjadi aktual dan konkret hanya dalam dan melalui wacana. Struktur tanpa wacana bersifat mati, wacana tanpa struktur adalah proses yang kacau dan tak terpahami. Atas dasar ini Ricoeur merumuskan ciri-ciri wacana sebagai berikut:
1. Wacana adalah dialektik peristiwa dan arti. Peristiwa terjadi hanya sekali dan tak terulang, sedangkan arti dapat diidentifikasikan dan direidentifikasikan; ia bisa diulangi, diungkapkan dengan kata lain, atau diterjemahkan ke dalam bahasa asing.
2. Kalimat sebagai unit terkecil wacana, menyampaikan sesuatu tentang sesuatu melalui gabungan dua fungsi dalam kalimat yang sama: fungsi identifikasi dan fungsi prediksi.
3. Arti wacana bersifat noetis-noematis. Noetis artinya mengacu pada maksud pembicara. Noematis berarti menunjuk kepada realitas sebagaimana disarankan oleh ucapan itu. Memang maksud pembicara dianyatakan di dalam dan melalui arti ucapan, tetapi antara keduanya bisa terjadi kesenjangan (baik karena ketaksadaran individual, maupun karena kata atau kalimat bisa memiliki arti majemuk yang tidak seluruhnya bisa dikontrol oleh maksud eksplisit pembicara).
4. Wacana bisa dilihat secara subyektif adalah tindakan polivalen seorang pembicara. Dan wacana bisa dilihat secara obyektif, adalah dialektika antara makna dan referensi (sense and reference). Sense adalah arti ideal yang tertera di dalam wacana itu, sedangkan reference adalah realitas yang ditunjukkannya.
Singkatnya tentang wacana, ada dua simpulan bisa diperoleh sebagai bukti pertentangan dengan asumsi dasar strukturalisme. Pertama, bahasa bukanlah sebuah objek, melainkan mediasi. Mediasi antara aku dan dunia disebut referensi, mediasi antara aku dan sesama disebut komunikasi, mediasi antara aku dan diriku sendiri disebut pengenalan diri. Secara lebih tegas lagi: bahasa adalah kondisi eksistensial manusia sebagai makhluk yang mengada secara sadar dalam dunia (Gadamer,1977: 59-68). Dengan demikian, aliran pemikiran hermeneutik (seperti Heidegger, Gadamer, Ricoeur) dewasa ini menemukan kembali secara baru definisi manusia yang diberikan Aristoteles: zoon logon echon, yang secara kurang tepat diterjemahkan oleh para pemikir zaman skolastik sebagai animal rationale.
Kedua, apabila kita melihat bahasa secara utuh sebagai sistem dan proses, sebagai struktur dan wacana, kita harus mengatakan bahasa adalah penggunaan yang tak terbatas dari sarana yang terbatas (language is an infinite use of means). Dalam pemahaman bahasa yang demikian kita perlu menggarisbawahi kreativitas manusia.
Dialektika bahasa
Dialektika bahasa antara sktruktur dan wacana dapat ditunjukkan pada beberapa lapisan, yaitu pada tingkat kata, kalimat, penafsiran teks. Dalam kaitan dengan teknik-teknik penyusunan kamus dari tradisi lisan, dapat ditunjukkan dialektika itu pada tingkat kata. Kata memang “kurang” dalam kalimat karena tiap kata yang kita jumpai dalam kamus (ataupun dalam perbendaharaan kolektif lisan kita) hanyalah memiliki arti potensial. Arti itu baru menjadi aktual dalam wacana ketika seorang pembicara menggunakannya untuk menyampaikan sesuatu kepada seorang pendengar. Kata dalam kamus termasuk tatanan semiotis, kata dalam wacana menjadi komponen semantis.
Dari lain pihak, kata “melebihi” kalimat. Kalimat sebagai peristiwa ujaran bersifat sementara, sedangkan kata sebagai kata selalu tersedia untuk penggunaan baru terus-menerus. Dan karena kata selalu dipakai terus-menerus dalam konteks baru, kata memiliki sejarah: ia mengalami sedimentasi dan inovasi arti. Dalam sejarah pemakaian itu kata bisa mendapat lebih dari satu arti. Dengan demikian, kita sampai kepada masalah tentang arti majemuk sebuah kata, yang dalam linguistik disebut polisemi. Dilihat dari linguistik sinkronis, polisemi menunjukkan bahwa satu kata pada saat tertentu sekaligus memiliki arti majemuk. Akan tetapi, pendekatan sinkronis (struktural) tidak menjelaskan bagaimana satu kata dalam sejarah penggunaannya sampai mendapat arti majemuk.
Sebenarnya kata-kata seperti kaki meja, lengan kursi, bintang film mula-mula dipakai secara metaforis, tetapi sesudah penggunaannya menjadi lazim dan diterima umum, arti metaforis itu dibekukan dan masuk ke dalam polisemi kata kaki, lengan, dan bintang. Tampaklah bahwa antara polisemi dan metafor yang hidup terdapat suatu hubungan sirkuler: polisemi termasuk struktur, metafor termasuk proses semantis; pelaziman metafor merupakan kembalinya proses wacana kepada struktur disusul perluasan polisemi; polisemi yang diperluas menjadi struktur untuk penggunaan kreatif dalam metafor baru dan seterusnya.
Kita bisa bertanya lebih lanjut, bagaimana mungkin kata dengan arti majemuk dapat berfungsi di dalam pembicaraan sehari-hari dan dalam tulisan tanpa terlalu banyak menimbulkan kerancuan dan salah paham? Secara umum kita dapat mengatakan bahwa arti persis sebuah kata bergantung dari saringan konteks. Yang dimaksudkan dengan “konteks” bukan hanya tempat kata di dalam wacana, melainkan juga lingkup sosial dan lingkungan hidup yang turut mewarnai makna sebuah kata. Secara lebih rinci Ricoeur membedakan tiga macam strategi bahasa dalam hubungan dengan polisemi. Pertama, bahasa sehari-hari (ordinary language) menggunakan strategi polisemi reduction (pengurangan polisemi) sehingga pembicara dan pendengar bisa saling mengerti secara baik. Kata makan misalnya, memiliki banyak arti. Akan tetapi dari konteks percakapan kita mengerti arti mana yang dimaksudkan seperti makan nasi, makan uang, makan angin, makan garam, dan makan hati.
Kedua, bahasa ilmiah secara lebih radikal mau menghilangkan polisemi supaya setiap kata
Sistem dan Struktur Bahasa
    dalam pasal di atas telah dinyatakan bahwa bahasa adala sebuah sistem yang memadukan dunia makna dengan dunia bunyi ,bahasa merupakan suatu sistem itu berati bahwa bahasa itu sistemaatis dan sekaligus juga sistemis. Denfgan yang terakkhir ini di maksudkan bahwa bahasa itu terdiri dari beberapa sub sistem , yakni subsistem fonologi,subsistem gramatika dan subsistem leksikon. Dalam ketiga subsistem itulah bertemu dunia bunyi dan dunia makna. Karena meerupakan sistem dtanda berupa bunyi, bahasa membentuk struktur
dan bagi sebagian yang lain linguistik di pelajari sebagai ilmu dasar bagi ilmu-ilmu lain seperti kesusastraan , filologi , pengajaran bahasa, penerjemaahan dan sebagainya, karena dengan mempelajari linguistik lebih mudah orang memahami liku-liku bahasa yang merupakan materi ilmu-ilmu itu

sumber : buku pesona bahasa
               buku manajemen bahasa perorganisasian


 





Kamis, 19 Juni 2014

TEORI PRODUSEN DAN TINGKAH LAKU PRODUSEN



TEORI PRODUSEN DAN TINGKAH LAKU PRODUSEN
Produksi adalah menurut saya barang yg mentah diolah menjadi bahan jadi, yg di produksi dan dipasarkan untuk kebutuhan masyarakat. dan menjadi pemasukan ekonomi buat yg memproduksinya.

Teori produksi :
Yang dimaksud dengan teori produksi adalah teori yang menjelaskan hubungan antara tingkat produksi dengan jumlah faktor-faktor produksi dan hasil penjualan outputnya
Di dalam menganalisis teori produksi, kita mengenal 2 hal:
·         Produksi jangka pendek, yaitu bila sebagian faktor produksi jumlahnya tetap dan yang lainnya berubah (misalnya jumlah modal tetap, sedangkan tenaga kerja berubah).
·         Produksi jangka panjang, yaitu semua faktor produksi dapat berubah dan ditambah sesuai kebutuhan.
Bila seorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses produksi untuk mencapai tujuannya harus menentukan dua macam keputusan :
·         Berapa output yang harus diproduksikan.
·         Berapa dan dalam kombinasi bagaimana faktor-faktor produksi (input) dipergunakan.

Produksi merupakan konsep arus (flow concept), bahwa kegiatan produksi diukur dari jumlah barang-barang atau jasa yang dihasilkan dalam suatu periode waktu tertentu, sedangkan kualitas barang atau jasa yang dihasilkan tidak berubah.

Biaya :
       Biaya dalam pengertian Produksi ialah semua “beban” yang harus ditanggung oleh produsen untuk menghasilkan suatu produksi. Biaya produksiadalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksikan perusahaan tersebut.
Biaya produksi dapat meliputi unsur-unsur sebagai berikut:
        1.       Bahan baku atau bahan dasar termasuk bahan setengah jadi
        2.       Bahan-bahan pembantu atau penolong
        3.       Upah tenaga kerja dari tenaga kerja kuli hingga direktur.
        4.       Penyusutan peralatan produksi
        5.       Uang modal, sewa
        6.       Biaya penunjang seperti biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan, biaya listrik, biaya keamanan    dan asuransi
        7.       Biaya pemasaran seperti biaya iklan
  8.       Pajak 


Biaya Tetap Total (Total Fixed Cost/FC)
Biaya Tetap Total adalah biaya yang tetap harus dikeluarkan walaupun perusahaan tidak berproduksi

yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya total. Penurunan rumus tersebut, adalah:
TC = FC + VC
 
FC = TC – VC
Keterangan:     TC = Biaya total (Total Cost)
                                    FC = Biaya tetap (Fixed Cost)
                                    VC = Biaya Variabel (Variable Cost)

 
Biaya Variabel Total (Total Variabel Cost/VC)
Biaya Variabel Total adalah biaya yang dikeluarkan apabila berproduksi dan besar kecilnya tergantung pada banyak sedikitnya barang yang diproduks
Biaya variabel rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu:
 VC = TC – FC


Biaya Total (Total Cost/TC) 
Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
TC = FC + VC


Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost/AFC) 
Biaya Tetap Rata-Rata  adalah hasil bagi antara biaya tetap total dan jumlah barang yang dihasilkan. Rumus  :
AFC =  FC/Q 
Keterangan:     FC = Biaya Tetap Total
                                    Q = Kuantitas

Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variabel Cost/AVC) 
Biaya variabel rata-rata adalah biaya variable satuan unit produksi.
Rumusnya:     AVC = VC/Q
keterangan:      VC =  Biaya Variabel Total
                                    Q = Kuantitas

  Biaya Total Rata-Rata (Average Cost/AC) 
Average Cost adalah biaya total rata-rata yang dapat dihitung dari Total Cost dibagi banyaknya jumlah barang tertentu (Q). Nilainya dihitung menggunakan rumus di bawah ini:
AC= TC /Q  atau  (VC+FC)/Q 
AC= AVC+AFC 

Biaya Marginal (Marginal Cost/MC) 
Biaya Marginal
adalah tambahan biaya yang disebabkan karena tambahan satu unit produksi. Biaya marginal diperoleh dari selisih Total Cost dan selisih kuantitas dari barang yang diproduksi. Sehingga dapat dirumuskan:
MC = dTC/dQ Atau MC = TCn – TCn-1